Biarkan Pena Mengalun1
Sunday, December 28, 2008 15:16Ada aroma hujan,
menapak bumi basah.
Ada suara-suara di ujung sana, tak pernah berhenti berdenging di muara telinga
diam-diam mulai merembes ke hati
padahal nyala api tak sekalipun di sulut.
Ada merpati menghampiri dahan rindang siang hari,
membawa sejumput rumput untuk sangkar.
Aku mencintai langit itu,
dia tak pernah sekalipun membelai kepalaku,
namun kasihnya di siang hari, meneduhi hari yang terik.
Aku mencintai rembulan itu,
mempesona saat langit bersih, menjadi inspirasi tiada tepi.
Aku mencintai laut itu,
saat berombak membawa gemuruh, tak akan ada yang berani berkontempelasi.
Kata-kata hati menjadi sulut api itu, padahal ada riak angkuh tak terganti.
Izinkan percik api ini menjadi satu pelita pengisi,
tidak akan menjadi obor, ataupun unggun,
hanya akan begitu, begitu, dan begitu seterusnya, hingga takdir akhir sesungguhnya
24 Desember 2008
























