Ada Cinta di Pedalaman

Sunday, January 18, 2009 17:17
Posted in category Diary, Tentang Orang

Beberapa orang kakak tingkat yang sudah tamat, saat ini sudah melanjutkan profesinya masing-masing. Ada yang ikut tes CPNS, praktek klinik bersama, sekolah lagi, dan juga PTT. Beberapa teman yang lulus tes PNS guru juga sudah mulai menempati posnya masing-masing. Sebagian mereka ditempatkan di daerah pedalaman, yang bahkan nama tempatnya pun baru kali ini saya dengar, hehe. Salah seorang dosenku misalnya, drg. Timbang, saat ini sedang tugas PTT di pedalaman Martapura, entah apa nama desa tepatnya, yang jelas kalau ke sana mesti naik speedboat, speedboatnya pun gak ada tiap hari. Yanti salah seorang temanku juga demikian, ia ditugaskan mengajar di daerah pedalaman, naik speedboat dengan membayar 50ribu, belum sempat nanya berapa lama perjalanan ke sana. Dan yang jelas di sana kalau siang gak ada listrik, adanya hanya malam hari. What??? siang ga ada listrik? wahh khawatir sinyal pun tak ada hehehe.

Belum pernah membayangkan mesti hidup di daerah pedalaman dalam waktu yang lama. Listrik deh yang utama hehe eh salah, air bersih maksudnya. tapi kalau bisa keduanya sudah ada. Tapi inti dari postingan saya berikut ini adalah: sanggupkah anda bila ditempatkan di tempat demikian? Meniti hidup sebagai pengabdi masyarakat susah-susah gampang. Faktor kemanusiaan dan sosialis diri membuat keinginan mengabdi itu ada, namun faktor medan yang tidak biasa membuatnya menjadi kerikil-kerikil di jalanan. Harus diakui justru tempat seperti itulah yang perlu mendapatkan perhatian. Ratusan dokter tercetak namanya setiap tahun, namun kenyataan di lapangan, terutama di daerah pedalaman, saat ini masih kekurangan tenaga medis. Demikian juga sekolah-sekolah. masih ada di Indonesia ini, satu sekolah hanya diajar oleh seorang guru. Apakah lahan pengabdian di Indonesia sudah semakin sempit?

Pertanyaan seperti ini kerap kali berdenging di telinga saya. Saya pun mempertanyakan hal serupa. Apakah saya siap ditempatkan di daerah yang membutuhkan. Saya tidak bisa menjawabnya sekarang, yang jelas saya selalu berusaha dekat dengan lingkungan saya yang dekat dengan kelas menengah ke bawah, berusaha untuk selalu menajamkan feel dan mengasah hati, supaya bila memang takdir melempar saya ke tempat demikian saya bisa happy-happy ajah pun dengan fasilitas yang minim.. hehehe

:nyembah:


This is some text prior to the author information. You can change this text from the admin section of WP-Gravatar To change this standard text, you have to enter some information about your self in the Dashboard -> Users -> Your Profile box. Saya


You can leave a response, or trackback from your own site.

9 Responses to “Ada Cinta di Pedalaman”

  1. kw says:

    January 18th, 2009 at 11:44 pm

    berat memang. cuman kalau hanya ptt aja kan cuman sebentar. kalau aku mah emang asalnya dari kampung paling belakang yang belum ada sinyal dan listrik. cuman air bersihnya melimpah,

    salam kenal, nice 2 meet u

  2. aulia rachman says:

    January 19th, 2009 at 2:13 am

    :ngelamun:
    slm kenal juga..
    posting yang mengesankan..
    aku punya teman guru SMP ..cewek juga yang sdh 6 bulan ini hidup di pedalaman Kalteng (orang bilang disana mistiknya masih terasa)..ngumpul sama orang2 asli suku dayak..
    disana gajinya gak gede, biasa PNS..kalo malam gak ada listrik,,, hidup pake lampu minyak,,, makanan sulit dicari karena byk orang non muslim,, kalo mau balik ke BJM ya make speedboat dulu beberapa jam dll…
    celakanya dia sekarang masih jomblo..hohohoho..
    tapi aktifitasnya lumayan padat…dari ikut arisan sampe ngajar ngaji anak2 disitu..

  3. herdianto says:

    January 19th, 2009 at 9:00 am

    gak yakin kalau indah bisa hidup di daerah pedalaman seperti yg diceritakan itu.
    makanya nanti klo dah disumpah jadi dokter, hati-hati lho….

    klo saya sih emang rumahnya dah di kampung….. :nangis:

  4. zanikhan says:

    January 20th, 2009 at 4:25 am

    :pray: saya berdoa agar ibu satu ini moga cepat dapet jodoh…. biar ga’ susah buat PTT-nya. N biar ga’ dapet Title Dokter Gigi Jomblo… :sikut: :ngakak:

    *maaf ya bu…:plis: :sliweran:

  5. yodama says:

    January 21st, 2009 at 7:06 pm

    Prinsipnya, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

    Di republik ini, listrik masih mahal. Tp lebih mahal lagi kalo gak ada listrik. Sy pun tak dpt membayangkan bila hidup tanpa listrik.

    Jd ingat masa KKN dl, di desa pinggir hutan ‘alaspurwo’. Disana pun tenaga medis, pengajar, dll sangat kurang. Shg kami pun sempat mjd pengajar dadakan. Soal listrik, alhamdulillah masih lebih baik dibandingkan lokasi KKN di madura, yg mati pd kondisi beban puncak.

    Jadi sebaiknya, solusinya gmn ya? Apakah tenaga2 ahli didatangkan ke daerah pedalaman? Ataukah, para penduduk (usia produktif) pedalaman disuruh belajar ke kota baru kemudian disuruh balik tuk membangun desanya masing2?

  6. easy says:

    January 22nd, 2009 at 12:31 am

    aku berharap dokter sehebat dan sesabar jasmin akan ditempatkan di pedalaman Bangka. dengan begitu orang-orang di kampung halaman saya akan semakin bagus kesehatannya :plis:

  7. jafis says:

    January 24th, 2009 at 8:31 am

    Dukung mimin jadi Dokter tanpa tanda jasa bagi masyarakat menengah kebawah..
    :tob:

  8. zanikhan says:

    January 24th, 2009 at 9:28 am

    :ngakak: baca komen selanjutnya jadi “ngakak” hehehehehehee…. :ngelamun: bisa ga’ ya mimin buktikan apa yang orang-orang minta :mikir: cuman bisa ngomong semoga….. :mlorok:

  9. ciwir says:

    January 27th, 2009 at 12:05 pm

    mmm… nunggu beberapa bulan lagi perubahannya ada gak ya?
    jangan 2 tiba2 posting : lenyap sudah cinta di pedalaman
    :evillaugh:

Leave a Reply

:dead: :pray: :clinguk2: :tob: :hoho: :jedug: :lempar: :mikir: :nyembah: :plis: :puyeng: :sikut: :sliweran: :diem: :evillaugh: :gemes: :hore: :lirik: :jedug: :ngacir: :matabelo: :mataduitan: :mlorok: :nangis: :ngakak: :ngelamun: :ngikik: more »