Partner Hidup, Rekan, dan Rival

Thursday, September 25, 2008 23:56
Posted in category Diary, Tentang Orang, mata mata

Memasuki sesemter ganjil kali ini dengan riang gembiranya menerima matakuliah Orthodonsi II. Sejak Orthodonsi I kami diharuskan mempunyai partner dalam mencetak rahang, ya pura-puranya jadi pasien gantian hehehe. Saya perkenalkan partner saya satu per satu.

Pas Orthodonsi I, saya dipasangkan dengan Abdillah, anak seorang dokter yang sangat ditakuti sekaligus dihormati di PDU, berperawakan tinggi kurus dan berambut keriting serta berkaca mata. Kalau bicara seperti orang bergumam. Uniknya hasil cetakan rahannya mempunyai bentuk palatum yang agak dangkal namun luas. Senang dengan komik dan menggambar.

Memasuki Ortho II, saya berpasangan dengan (lagi-lagi dengan pria!) Ario, adik seorang dokter, asal Prabumulih, anaknya lucu namun kadang tingkahnya menyebalkan, narsisnya minta ampun, dan penyakitnya akhir-akhir ini adalah ngotak-atik internet lewat hape.

Dari kedua macam orang ini saya memperoleh kemudahan dan kesulitan masing-masing. Misalnya Abdillah, mudah sekali dicetak rahannya, sangat kooperatif, namun sayangnya setelah dicetak justru susunan giginya yang rumit yang menyulitkanku untuk bisa acc klamer. Sebaliknya Ario, tidak perlu mencetak rongga mulutnya semester ini, saya langsung dikasih model jadi, namun yang agak menyulitkan, tulang alveolar sebelah servik sangat menonjol sehingga klamer labial bow agak sulit diungkit.

Yep, begitulah suasana di lab orthodonsi, menyenangkan, menyebalkan, mengasyikkan, memuakkan, semua tumpah ruah jadi satu. Satu hal yang memuatku sangat bahagia pabila kerjaanku langsung diacc dosen hehe teman-teman ini menjadi partner ketika kami perlu mencetak rahangnya, namun dalam hal menyelesaikan klamer (kawat) dikerjakan sendiri-sendiri, terkadang terasa seperti bersaing, iya bersaing antar teman dan juga bersaing dengan waktu. Terkadang ingin membantu teman yang belum selesai, namun kita juga dituntut agar cepat menyelesikan tugas. Semua pekerjaan lab ini diacc pertahap, jadi memang harus cepat. Pernah suatu kali kawat labial bowku sampai dengan minggu ke tiga tidak diacc karena kurang sedikit saja. Saya sampai nangis, kesel, penat, akhirnya coba ku tabayuni dengan kakak tingkat dan akhirnya selesai. Kadang suatu pekerjaan yang harus dikerjakan sendiri, pada kenyataannya tak mampu kita kerjakan sendirian, maka meminta bantuan ataupun sekedar wejangan sangatlah diperlukan.


This is some text prior to the author information. You can change this text from the admin section of WP-Gravatar catatan harian calon dokter gigi Saya


You can leave a response, or trackback from your own site.

4 Responses to “Partner Hidup, Rekan, dan Rival”

  1. fickry says:

    September 28th, 2008 at 5:26 pm

    paling seru klo ada rival yg jadi pelecut untuk terbang!!
    yo cari rival sebanyak banyaknya..loh????

  2. bibikpici says:

    October 2nd, 2008 at 7:42 pm

    jadi yang mano ndah? ario apo abdillah? :D

    *nyiapke amplop u/ kondangan

  3. Zanikhan says:

    October 6th, 2008 at 2:27 pm

    Tak tunggu yo Undangannyo…

  4. dilla says:

    March 15th, 2009 at 5:54 am

    mau donk dikenalin sama temennya yang namanya abdillah itu..kyknya anaknya baik.hehehehe

    salam kenal

Leave a Reply

:dead: :pray: :clinguk2: :tob: :hoho: :jedug: :lempar: :mikir: :nyembah: :plis: :puyeng: :sikut: :sliweran: :diem: :evillaugh: :gemes: :hore: :lirik: :jedug: :ngacir: :matabelo: :mataduitan: :mlorok: :nangis: :ngakak: :ngelamun: :ngikik: more »